Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 September 2015

Read ya?

Mana Pengorbananmu!?

[Kisah Motivatif, Ditulis dengan Tinta Air Mata]

Disebutkan dalam kisah yang shohih tentang bagaimana pengorbanan orang-orang sholih di dalam meraih keridhoan Allah سبحانه وتعالى

Diantaranya adalah Syaikh Utsman Dabu –semoga Allah merahmati beliau-

Beliau berasal dari Republik Gambia, ujung Barat Afrika. Beliau tinggal di rumah sederhana di suatu desa kecil dekat ibukota Banjul.

Syaikh Utsman menceritakan perjalanannya ke Baitullaah Mekkah Al-Mukarromah 50 th yang lalu. Beliau pergi bersama empat orang kawannya dengan berjalan kaki dari Banjul menuju Makkah. Mereka berlima meretas benua Afrika dari Barat hingga Timur tanpa berkendaraan, kecuali pada waktu-waktu singkat mereka mengendarai hewan tunggangan hingga mereka tiba di Laut Merah untuk menyeberang menuju Jeddah.

Suatu perjalanan penuh keajaiban yang berlangsung selama dua tahun. Kadang mereka singgah di sebagian kota untuk istirahat, bekerja, dan berbekal, kemudian melanjutkan perjalanan.

Beliau ditanya, “Bukankah haji ke Baitullah diwajibkan atas orang yang mampu, sedangkan Kalian dalam keadaan tidak memiliki kemampuan?”

Beliau menjawab, “Benar. Namun, pada suatu hari, Kami saling berbicara tentang kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalâm ketika beliau berangkat membawa keluarganya ke lembah yang tidak ada tanaman di sisi Baitullah sedikitpun. Kemudian salah seorang di antara Kami berkata, ‘Kita sekarang adalah para pemuda yang kuat lagi sehat. Oleh karena itu, apakah udzur Kami di sisi Allah jika Kami kurang dalam menempuh perjalanan ke Baitullah. Apalagi Kami merasa bahwa hari-hari yang bergulir hanya menambah kelemahan. Maka, untuk apa diakhirkan?’ Kawan itu pun memicu dan memotivasi Kami untuk menempuh perjalanan dengan mengharapkan pertolongan dari Allah subhaanahu wa Ta'ala.

Keluarlah mereka berlima meninggalkan rumah-rumah mereka dengan perbekalan yang tidak mencukupi lebih dari satu pekan. Di perjalanan mereka, ada berbagai kesulitan, kesempitan, dan kesesakan yang hanya diketahui oleh Allah.

Betapa banyak malam yang mereka lalui dengan lapar yang hampir membinasakan mereka. Tak terbilang malam yang mereka harus meninggalkan kenikmatan tidur lantaran kejaran binatang buas. Sering berulang malam yang diliputi ketakutan akan para penyamun yang menghadang di berbagai lembah.

رُبَّ لَيْلٍ بَكَيْتُ مِنْهُ فَمَا
صِرْتُ فِي غَيْرِهِ بَكَيْتُ عَلَيْهِ

Betapa banyak malam yang telah kutangisi
Tatkala Ku pindah ke malam (lain), kembali aku menangisinya

Syaikh Utsman berkata,
“Suatu malam, Saya tersengat oleh (binatang berbisa) di tengah perjalanan. Maka, Saya pun ditimpa oleh panas hebat dan rasa pedih dahsyat yang membuatku terduduk dan tidak bisa tidur. Saya telah mecium bau kematian berjalan di urat-uratku,

وَإِنِّي لَأَرْعَى النَّجْمَ حَتَّى كَأَنَّنِيْ
عَلَى كُلِّ نَجْمٍ فِي السَّمَاءِ رَقِيبُ

Sungguh Saya terus mencermati bintang-bintang itu, hingga seakan …
Saya adalah pengawas setiap bintang di langit

Kawan-kawanku pergi bekerja, sementara saya hanya berteduh di bawah pohon hingga mereka kembali di penghujung siang. Syaithan terus memberi was-was ke dalam hatiku, “Bukankah seharusnya Engkau tetap tinggal di negerimu? Mengapa Engkau membebani dirimu dengan hal yang Engkau tak mampu saja?”

Jiwaku menjadi berat dan hampir Saya melemah hingga kawan-kawanku datang. Salah seorang di antara mereka melihat ke wajahku dan bertanya akan keadaanku. Saya pun menoleh kepadanya dan mengusap setetes air mata yang telah mengalahkanku. Seakan, dia merasakan penderitaanku. Dia berkata, “Bangunlah. Berwudhulah, kemudian shalatlah. Engkau takkan mendapatkan, kecuali kebaikan –dengan izin Allah-.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong kalian. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” [Al-Baqarah: 45]

Dadaku pun menjadi lapang, dan Allah menghilangkan kesedihan dariku, Alhamdulillah.

Kerinduan mereka pada dua tanah Haram terus berdendang mengiringi mereka pada segala keadaan. Pedih perjalanan serta bahaya dan prahara laluan telah menjadi ringan.

Tiga orang di antara mereka telah meninggal. Yang terakhir wafat berada di hamparan lautan. Sungguh Hal yang menakjubkan dari orang ketiga yang wafat adalah, dia berpesan kepada kedua kawannya,

“Jika kalian berdua mencapai Masjidil Haram, sampaikanlah kepada Allah akan kerinduanku berjumpa dengan-Nya. Mintalah kalian berdua kepada-Nya agar mengumpulkan Saya dan Ibuku bersama Nabi shallallâhu ‘alaihi wa sallam.”

Syaikh Utsman bertutur,
“Tatkala kawan Kami meninggal, Saya tertimpa gundah gulana hebat dan kesedihan dahsyat. Itulah hal terberat yang Saya jumpai pada perjalananku. (Kawanku) ini adalah orang yang paling sabar dan kuat di antara Kami. Saya telah khawatir meninggal sebelum mendapat nikmat mencapai Masjidil Haram. Saya telah menganggap hari-hari dan saat-saat itu lebih panas daripada bara api.

إِذَا بَرَقْتَ نَحْوَ الْحِجَازِ سِحَابَةٌ
دَعَا الشَّوْقُ مِنِّي بَرْقَهَا الْمُتَطَامِنُ

Jika awan bergelegar di arah Hijaz
Kerinduan yang damai memanggil petirnya

Begitu Kami tiba di Jeddah, Saya sakit luar biasa. Saya pun khawatir meninggal sebelum sempat mencapai Makkah. Saya berwasiat kepada kawanku, ‘Jika Saya meninggal, kafanilah Saya dalam ihramku dan dekatkanlah Saya sesuai kemampuan ke kota Makkah. Barangkali Allah melipatgandakan pahala untukku dan menerimaku sebagai orang-orang shalih.’

Kami pun tinggal di Jeddah beberapa hari, kemudian melanjutkan perjalanan kami ke Makkah. Nafasku berhembus cepat dan kegembiraan memenuhi wajah. Rasa rindu terus menggoyang dan mendorongku hingga kami tiba di Masjidil Haram.”

Syaikh Utsman terdiam sesaat. Beliau menyeka linangan-linangan air matanya yang berderai kemudian bersumpah dengan nama Allah bahwa dia belum pernah melihat kelezatan dalam hidupnya sebagaimana kelezatan yang memenuhi seluruh lapisan hatinya tatkala beliau melihat Ka’bah yang mulia.

Beliau berkisah,

“Tatkala melihat Ka’bah, Saya bersujud syukur kepada Allah. Saya terus menangis, seperti anak-anak kecil yang menangis, karena dahsyatnya keagungan dan kharisma (Ka’bah). Betapa mulianya Baitullah itu dan sungguh penuh keagungan.

Kemudian, Saya mengingat kawan-kawanku yang belum dimudahkan untuk sampai ke Masjidil Haram. Saya pun memuji Allah Ta’âlâ atas nikmat dan keutamaan-Nya kepadaku. Selanjutnya, Saya memohon kepada Allah Subhânahu untuk mencatat (kebaikan) langkah-langkah mereka dan tidak mengharamkan pahala untuk mereka serta mengumpulkan Kita semua pada kedudukan jujur di sisi Allah Yang Berkuasa Lagi Maha Mampu.”

[Disadur dengan sedikit meringkas dari Ar-Rafîq Fî Rihlatil Hajj hal. 107-109]

Selasa, 25 Agustus 2015

Kisah Tauhid

MUTIARA HIKMAH:
"Di manakah Tuhan".    

Alkisah suatu saat, seorang kakek yang hadir dalam sebuah pengajian yang dipimpin oleh seorang ustadz muda, bertanya: "Anakku... Tadi anakku menyampaikan ceramah tentang aqidah, tentang Allah; boleh kakek bertanya, di manakah Allah itu?".

Sebuah pertanyaan yang membuat sang ustadz muda itu bingung.... sangat dalam sekali.
Saat itu pula ia teringat pesan gurunya, jika ada yang bertanya... dimana pertanyaan itu sifatnya bukan karena ingin tahu atau ingin sekedar menguji dan kita tidak tahu jawabannya maka berikanlah jawaban seperti ini: "Sesungguhnya orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.." (mal mas-ul a'lamu minas saa-il).

Kakek itupun manggut2... sambil tertunduk beliau bertanya lagi...
"Anakku, coba ambilkan pelita itu (sebuah kaleng cat minyak yang berisi minyak tanah dan diberi api di sumbunya)...
Boleh kakek bertanya... Kapan pelita ini disebut pelita?".

Kembali sang Ustadz memberikan jawaban:
"Kakek.... saya tidak bisa menjawabnya... terangkanlah pada saya".

Sang kakek bukannya menjawab, malah memberikan pertanyaan baru lagi:
"Jika kakek tiup api di atas pelita ini... Kakek bertanya... Tahukah kamu anakku... Kemana perginya api itu?"

ALLAHU AKBAR!!! (Teriak bathin sang ustadz muda... selama ini ia tidak pernah berfikir tentang ke mana perginya api ketika ditiup dari pelita yang hidup. Oh iya ya... ke mana perginya api itu, bahkan tidak berbekas sama sekali.)
Kembali ia menjawab:
"Saya tidak tahu Kek... Berikan ilmu pada saya".

Kakek itu kembali tidak menjawabnya...
Beliau justru menanyakan nama si ustadz muda tersebut ...
"Nak, namamu siapa?"
Ustadz muda itu menjawab: "Abdullah..."
Kakek itu pun manggut-manggut lagi.
Sang ustadz makin bertambah heran dengan kakek ini.
"Boleh Kakek bertanya lagi... Di mana Abdullah itu..?"

Wah pertanyaan apa lagi ini pikirnya, untuk yang satu ini.. Ustadz itu menjawab "Di depan kakek... Inilah Abdullah".

Si kakek tua itu hanya geleng2 kepala dan merenung sejenak...
Sang ustadz pun terbawa suasana merenung seperti kakek ini dan tiba-tiba sang kakek menepuk bahu ustadz muda sambil memanggil namanya "Abdullah…….!".

Dengan spontan ustadz itu menjawab: "Saya, Kek!".
Kakek itu tersenyum kemudian mengatakan:
"Anakku... Barusan Kakek merasakan adanya Abdullah... karena bagimu Abdullah itu tidak ada...
jika kau pegang tanganmu, itu tangan Abdullah...
jika kau pegang keningmu, itu kening Abdullah...
jika kau pegang kepalamu, itu kepala Abdullah...
jika kau pegang tangan dan kakimu, itu adalah tangan dan kaki Abdullah.... lalu….. DI MANAKAH ABDULLAH ITU???

Abdullah itu ada... saat begitu banyak orang merasakan banyaknya manfaat kehadiran dirimu... sehingga banyak orang menyebut namamu anakku..."

"Demikianlah perumpamaan Allah SWT.
Sesungguhnyaّ Allah itu sudah ada sebelum apapun ada di alam raya ini. Allah sudah ada bahkan jika pun alam raya ini tidak diciptakan olehNYA.
Tapi Allah itu tidak ada "bagimu"... jika kamu tidak pernah mengerti tentangNYA.
Kau sebut langit itu adalah langit ciptaan Allah ..
Kau sebut api itu adalah api ciptaan Allah..... 
Kau sebut air itu adalah air ciptaan Allah ... 
Lalu di manakah..? Di manakah Allah?

Anakku... Allah itu ada bagimu bila kau selalu menyebut namaNYA...
Kau dzikirkan di setiap hembusan nafasmu... Maka kamu akan merasakan Allah selalu ada bersamamu... Maka Allah itu ada bagimu.. Karena ada dan tidak adanya dirimu, Allah  itu tetap ada..!!", demikian si Kakek menjawab panjang.

SUBHANALLAH.... sebuah ilmu yang tidak mungkin ia dapatkan di bangku kuliah... ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR! WALILLAHILHAMD... gumam sang ustadz.
Sebelum perpisahan dengan kakek itu, ia masih penasaran dengan perumpamaan pelita yang ditanyakan tadi.
Maaf Kek... Lantas... Apa maksud Kakek dengan pelita tadi??

Sang kakek pun lanjut menjelaskan:
"Pelita itu tidak bisa kamu sebut pelita tanpa ada apinya...
Ketika pelita itu tidak ada apinya... dia hanya bisa disebut kaleng cat minyak yang berisi minyak tanah dan bersumbu, itu saja...
Pelita itu baru bisa kau sebut pelita, apabila kau berikan api di sumbunya...
Ini bermakna demikianlah manusia...
Ketika ruhnya tidak ada, maka dia ibarat hanya bangkai yang berjalan...
Sehingga yang perlu kau hidupkan setiap hari adalah ruhnya...
Sehingga dia bisa menerangi dan memberikan manfaat bagi sekitarnya".

ALLAHU AKBAR!!! Teriak bathin si ustadz muda.
Kembali sebuah nasehat yang luar biasa, dan sebelum ia cium tangannya... Sang kakek ini membisikkan ke telinga:
"Anakku... Ingatlah saat api di atas pelita itu ditiup...
Api menghilang, tak berbekas dan kau tidak bisa melihatnya lagi...
Bahkan bentuk, rasa, sudah tidak bisa kau lihat...
Bahkan kau tanyakan seribu kali kemana perginya api itu pun kau tidak akan bisa menjawabnya...
Demikianlah dgn "ruh" anakku...
Saat dia pergi dari jasadmu dia tidak akan membentuk apapun bagimu...
Dia seakan-akan raib sebagaimana DZAT yang menciptakannya... DIA-lah Allah SWT.
Maka rawat dengan benar ruh yang ada dalam jasadmu..... Wassalamu'alaikum". Salam sang Kakek kepada ustadz itu.

"Wa'alaikumussalaam" jawab si ustadz sembari menitikkan air mata.

Cerita singkat *Bob Sadino

Selamat Pagi himi...
JANGAN PERNAH MERENDAHKAN SIAPAPUN

Suatu pagi, terlihat seorang wanita berpenampilan menarik berusia 40-an membawa anaknya memasuki area perkantoran sebuah perusahaan terkenal.

Karena masih sepi, mereka pun duduk di taman samping gedung untuk sarapan sambil menikmati hamparan hijau nan asri.

Selesai makan, si wanita membuang sembarangan tisu bekas pakai.
Tidak jauh dari situ, ada seorang kakek tua berpakaian sederhana memegang gunting untuk memotong ranting.

Si kakek itu menghampiri dan memungut sampah tisu itu, membuangnya ke tempat sampah.
Beberapa waktu kemudian, kembali wanita itu membuang lagi tanpa rasa sungkan, kakek itu pun dengan sabar memungut dan membuangnya ke tempat sampah.

Sambil menunjuk ke arah sang kakek, si wanita itu lantang berkata ke anaknya,”Nak, kamu lihat kan, jika tidak sekolah dengan benar, nanti masa depan kamu cuma seperti kakek itu, kerjanya mungutin dan buang sampah! Kotor, kasar, dan rendah seperti dia, Jelas, ya ?”

Si kakek meletakkan gunting dan menyapa ke wanita itu, “Permisi, ini taman pribadi, bagaimana Anda bisa masuk kesini ?”
Wanita itu dengan sombong menjawab, “Aku adalah calon manager yang dipanggil oleh perusahaan ini.”

Di waktu yang bersamaan, seorang pria dengan sangat sopan dan hormat menghampiri sambil berkata, ”Pak Presdir,  hanya mau mengingatkan saja, rapat sebentar lagi akan segera dimulai.”

Sang kakek mengangguk, lalu sambil mengarahkan matanya ke wanita itu, dia berkata tegas, “Manager, tolong untuk wanita ini, saya usulkan tidak cocok untuk mengisi posisi apa pun di perusahaan ini.”

Sambil melirik ke arah si wanita, si manager  ��menjawab cepat ; “Baik Pak Presdir, kami segera atur sesuai perintah Bapak.”

Setelah itu, sambil berjongkok, sang kakek   tangan membelai kepala si anak, “Nak, di dunia ini, yang penting   belajar untuk menghormati orang lain��, siapa pun dia, entah direktur atau tukang sampah".

Si Wanita tertunduk malu ��, tanpa berani memandang si kakek.

Kisah nyata Alm. BOB SADINO
Semoga berguna dan bernilai tambah��

Ibu Profesional

Game Level 1 : Komunikasi Produktif#2